Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

05 Oktober 2023

is Melankolis

Melankolis,
Si Melankolis itu mudah menangis,
terkadang menjadi (sok) puitis,
dengan rangkaian kata-katanya yang tak praktis,

31 Januari 2019

Masih tentang Langit

Tentang biru langit sore.
Bukan lagi senja yang selalu oranye.
Ada kalanya harus meninggalkan sesuatu.
Ada kalanya harus bertemu yang baru.

Waktu tak akan pernah mengizinkan kita untuk diam dan tanpa berubah.

12 April 2018

Mengintip Langit

Dua kata yang terlintas tiap kali ku menatap celah-celah di balik gorden berwarna merah muda itu. Aku tak tau, terkadang memang beberapa kali terlintas satu kata atau dua kata atau bahkan satu kalimat tiap kali aku memandang sesuatu dalam waktu tertentu. Entah, sebenarnya itu ada maknanya atau tidak. Yang jelas, dalam beberapa minggu ini, aku sedang mengintip langit.

24 Agustus 2017

Tujuh Puluh Dua*

Selamat tujuh puluh dua,
wahai negeri yang punya satwa,
oh negeri yang punya rawa,
dan negeri yang punya hawa.

Selamat tujuh puluh dua,
Seusia manusia memang sudah tua,
tapi semoga lebih menjadi negeri yang berwibawa,
dan juga bertakwa,
tak hanya sekedar bisa tertawa.

Selamat tujuh puluh dua,
Indonesia.
 
Selamat tujuh puluh dua,
ah aku jadi kangen dengan palawa.

*(masih di bulan Agustus)

15 April 2016

Sunyi

Sunyi,
jemput aku dengan keheninganmu.
rangkul aku dengan tenangmu.
Ajak aku bertemu dengan kedamaian di dalam diam.
Sejenak.

01 Januari 2016

rong ewu lima las

Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam bahasa jawa.
Saya hanya memainkan kata-kata dan berusaha menghubungkannya dengan apa yang sedang saya pikirkan.
Suwun. :)

Rong ewu lima las.
Setengah kapisan, padet nang kelas.
Setengah kapindo, jarang nang kelas.
Ncen njeblok ngene, taun iki saba ku nang kelas.

Rong ewu lima las.
Seng kudu digarap nang setengah kapisan, mugi hora nyisaake ampas.
Seng kudu digarap nang setengah kapindo, juuh - sek njaluk digarap nganti melas.
Duh, iki piye mas.

Rong ewu lima las.
Monggo, mboten amung nyuwun lan nyuwun welas.
Monggo, ora nglaleke seng lawas.
Monggo, pada tumindak lan mikir waras.
Monggo, angowahi panguripan saya laras.

Rong ewu lima las.
Sampun pungkas.

Gedongan, 31 Desember 2015

18 Juni 2015

Entah, suasana ramadhan di rumah sering terbayang.
Menyusupi hampir di segala aktivitas. 
Yang sepertinya membuat rindu kembali menerpa. 
Hingga tak sengaja tersampaikan kepada yang dirindu.
Dan terkadang matapun tak dapat diajak kompromi.
Emh, padahal tak lama "kemarin-kemarin" baru saja bersua. 

Entah mengapa, ini rasanya begitu hebat. 
Tak seperti sebelum-sebelumnya. 
Padahal waktu dan usia kini harusnya telah mengerti. 
Apakah ini yang dinamakan "memanjakan ego"?
Ah, aku tak tau. Aku tak menghendakinya.

Selamat memasuki bulan Ramadhan
Alhamdulillaah masih dapat berjumpa.
Semoga kita tidak melewatkan dan tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan di bulan penuh berkah ini. 
Semoga kita dapat tetap selalu mensyukuri. 
Aamiin.

[+CurhatanUAS] Kata Bapak, saya harus "berjuang". Namun sedih rasanya, jika belum bisa melakukannya secara maksimal. :(

22 Mei 2015

Tersenyum

Lihat langit malam ini! Bulat sabit sedang tersenyum indah!
Masak kamu masih belum bisa tersenyum?
Bulan aja menampakkan senyumnya tepat di depan matamu. Iya, TE-PAT di depan matamu. 
Dengan senang hati, bulan pun menemanimu menyusuri jalanan di malam ini.
Mungkin bisa saja, bulan sedang menghiburmu dan memaksamu untuk tersenyum.
"Tersenyum"-lah... 

*efek minggu-minggu ini
*efek pulang (agak) malam 

04 Januari 2015

Potongan-Potongan Kata

Potongan-potongan kata itu tertulis di lembaran kertas putih, 
bertintakan warna hitam,
satu kata termuat di satu lembar kertas yang berbentuk sesuai dengan tepian kata yang dimuat.
Ah iya, terpiannya juga ada warna hitamnya.

Hitam-putih. Sangat simpel.
Tapi potongan itu banyak sekali. 
Mau dirangkai?
Ah, ini benar-benar sangat banyak.
Mending ya, kalau potongan-potongan itu terurut.
Yang ada malah teracak dan benar-benar semrawut.
Iya, semrawut.
Tertumpuk-tumpuk dan terbolak-balik. 
Saya saja tidak tahu, darimana saja asal muasal potongan-potongan kata ini. 
Jadilah potongan-potongan kata itu hanya tersimpan tak terkeluarkan.


Entah, tiba-tiba muncul kata-kata itu ketika saya (ingin) mempersiapkan buat ujian dua mata kuliah besok.
Dan saya sadari, keinginan saya untuk 'menulis (?)' itu sering kali datang ketika hari-hari ujian. Enggak tahu kenapa. Seperti saat ini. Tiba-tiba saja. 

04 November 2014

Sebongkah Es Batu

[Gambar dari google]
 Sebongkah es batu,
Mudah meleleh di suhu yang tidak sesuai.

Sebongkah es batu,
Kuat dan keras di suhu yang sangat sesuai.

Sebongkah es batu,
Dingin.

Sebongkah es batu,
Sering kali keruh, susah untuk diterawang. Kalaupun bening, tetap saja tak mudah.

Sebongkah es batu,
menyegarkan jika dipadukan dengan yang pas.
back-to-top
Berteman