14 Maret 2015

"Biasa"

(Minggu lalu) saya ingat beberapa cerita emh kejadian seperti ini:

1. Dulu waktu masih SMP awal-awal saya sering diantar Bapak ke sekolah. Dan pastinya ada beberapa teman yang mengetahui ketika saya diantar. Suatu ketika salah satu teman saya berkata,"We gak ngesakke po, mbendino kon ngeterke mbahmu ae? (Kamu nggak kasian apa, setiap hari minta diantar mbah kamu terus?" 
"Iku bapakku yo -_- (Itu Bapakku ya)"

2. Suatu ketika saya pergi ke suatu toko peralatan motor bersama mas Dwi (kakak kedua saya). Karena niatnya cuma sebentar, saya hanya nunggu di dekat motor yang memang cuaca waktu itu agak panas. Eh, tiba-tiba ada tukang parkir bilang begini,"Nduk, melu bapak e iku lo.. panas neng kono (Nduk, ikut bapaknya itu lo..panas di situ.)". Dan saya hanya tersenyum lalu mas Dwi juga tahu dan akhirnya kita saling ketawa. Haha. *Karena ternyata lama, saya akhirnya ikut (yang dikira) bapak saya :v

3. Sekitar dua tahun yang lalu, saya pulang ke Ngawi bersama keluarga mas Eko (kakak pertama saya). Karena ponakan yang masih kecil juga ikut, kami berencana untuk kesana naik kereta api. Untuk menuju stasiun, kami naik taksi terlebih dahulu (karena kalau naik motor, biaya penitipan untuk beberapa hari lebih mahal daripada naik taksi). Waktu di dalam taksi, mas Eko ngobrol sama supir taksi. Terus tiba-tiba supir taksinya tanya gini, "Itu yang anak pertama, SMP kelas berapa pak?" Haha, pengen ketawa. Saya sudah kuliah semester tiga tapi dikira masih SMP. Langsung saja mas Eko menjawab,"Hha, itu adik saya pak. Udah kuliah semester 3". "Oh, saya kira kakaknya yang kecil ini" Balas bapak supir taksi sambil nunjuk Arham - ponakan saya. 

4. Kamis minggu lalu baru saja pulang ke Ngawi. Malam Sabtunya ke dokter gigi sama mas Dwi. Ketika nunggu antrian, ada seorang bapak-bapak yang juga nunggu antrian ngobrol sama mas Dwi. Kemudian setelah melihat saya yang duduk di samping mas, bapak itu langsung tanya,"Putrone pak? (Anaknya pak?)" Hhe, lagi-lagi saya pengen ketawa. "Mboten, adek kula niki (Bukan, adik saya ini.)".

5. Sabtu minggu kemarin, Bapak Presiden sepertinya akan sedang melakukan perjalanan menuju Bojonegoro. Sehingga Bapak Presiden akan melewati depan rumah. Banyak polisi yang menjaga jalan. Karena masih menunggu, beberapa pollisi beristirahat di depan rumah dan nunut sholat di rumah. Kebetulan waktu itu yang di rumah hanya saya dan Bapak. Ketika salah satu polisi mau ke belakang untuk wudhu (sambil diantar bapak), polisi itu melihat saya. Langsung saja polisi itu tanya ke Bapak, "Wayahipun pak? (Cucunya pak?)", Bapak langsung ketawa, "Hha, niki putro pak. Sing paling alit. (Ini anak pak, yang paling kecil.)". "Oh, Kelas pinten? (Kelas berapa?)". "Sampun kuliah semester 6 e (Udah kuliah semester 6)".. dst (Kalau diterusin jadi di luar topik :v )

Nggak tau, saya harus sedih apa senang. Yang bikin sedih itu yaa... :| Ah sudah, biasa saja.

04 Maret 2015

Lari? Senja?

"Cuma di-Crop"
Dimanakah foto itu diambil?
Yay, di sekitar gedung GSP UGM. Oleh-oleh lari sore tadi, hehe. 
Lari?
Iya, salah satu kegiatan yang pengennya sih bisa jadi rutinitas mingguan, pengganti pelajaran Penjaskes waktu sekolah yang juga seminggu sekali :p. Tapi nyatanya? Haha, mulainya aja baru semester 5 dan cuma baru berjalan beberapa kali aja, terus semester 6 baru jalan hari ini. ckckck.

Lari sore hari. Sebenarnya nggak seratus persen lari sih. Paling lebih banyak jalan-nya :v. Jalan - lari muter GSP. Tapi setidaknya nyempetin buat "gerak-gerak" dan menikmati udara sore. Sore dan senja kan sepertinya sering menawarkan keindahan. Keindahan pemandangan salah satunya. Apalagi di sekitar wilayah kampus. Angin yang semilir, pemandangan para mahasiswa yang baru sibuk pulang, warung-warung yang bersiap untuk mengisi perut para mahasiswa, dan lain sebagainya. Sampai menjelang maghrib, langit senja pun datang dan kadang dengan menggoda. Emh, mungkin terasa biasa oleh sebagian banyak orang. Tapi saya jarang-jarang bisa seperti ini, hehe maklum saya "semi anak rumahan" :D.


Ya begitulah. Bisa dikata saya adalah salah satu penyuka senja. Senja cerah nan semilir :)

24 Februari 2015

Di Balik Bubur Ada Pesan Sabar

"Untuk beberapa hari, ibu memasak bubur nasi untuk putrinya. Bahkan saat hari itu ada acara "Pesta" - dimana anak-anak SD membawa makan dan minum "spesial" untuk dibawa ke sekolah untuk memperingati salah satu hari besar umat Muslim, dan ibu hanya memasakkan bubur nasi lagi untuk dibawakan putrinya ke sekolah. Padahal teman-teman yang lain membawa makanan yang enak-enak seperti mie goreng, ayam goreng, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana lagi, itu memang yang mau dan bisa dimakan oleh putrinya saat itu. Daripada giginya semakin sakit dengan makan yang keras-keras mending bersabar dengan hanya memakan bubur hingga giginya sudah tidak sakit lagi. Itu yang ada di pikiran putri dari ibu itu saat itu."

---

Sebuah cerita nyata beberapa tahun lalu. Dan iya, di cerita itu adalah ibu saya. Saya ingat peristiwa itu karena hari ini. Hari ini - tepatnya malam ini saya kembali makan bubur. Tapi bubur yang sekarang bukan buatan ibu, melainkan bubur instan. "ini" kembali datang. Datang disaat butuh "mikir sejenak untuk cari inspirasi dadakan" (hehe, maaf kalimatnya berlebihan :v) emh mungkin kalau dulu bisa dibilang saat "pesta", tapi sekarang ya itu. Sesuai tingkat umur, haha. Dan yang pasti harus berusaha dinikmati dan sabar. 

Terus jadi inget lirik lagu ini juga "daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi". Haha, iya po? :|

21 Februari 2015

Semester 6

[Semester 6. Judul yang terlalu mainstream di blog saya ini.]

Oke, selamat datang semester 6! Semester yang bener-bener mulai terasa kalau sudah "tua". Mulai terpikir banget "Bagaimana Selanjutnya?"

Terus jadi keinget salah satu obrolan teman di chat FB "tanam mandiri" (haha, ini grup ada gara-gara tugas mata kuliah IT Audit semester 4 lalu, terus dilanjut untuk diskusi - emh maksudnya ngobrol - tentang kuliah :v)



Semoga tidak hanya mengalir, tapi juga membuahkan hasil yang maksimal. Aamiin. :)

*Postingan ini sudah telat ya? :v

19 Januari 2015

Tujuh Tahun

Tiba-tiba pengen nggabungin - eh ngebandingin dua foto ini. Dua foto dengan posisi dan pose yang hampir sama namun diambil dalam waktu yang sangat berbeda. Ya berbeda. Tahun 2007 dan 2014. Selang tujuh tahun. Hehehe :D

09 Januari 2015

Selesai??

Haaaa.. udah pukul 07.26!
Duh padahal ujiannya tinggal setengah jam lagi, belum apa-apa pula..
Oke, saya segera siap-siap...

(Di tengah persiapan, tiba-tiba teringat)
Ohiya, ujiannya kan pukul 07.30 >_<
Oke deh, terpaksa harus langsung segera berangkat nih.
Duh, perjalanan ke kampus butuh waktu setengah jam pula.. 

Ha? kok udah jam 8 lebih aja?? :o

Emh, kok rasanya kayak di rumah, ada Ibu juga..
Yaudah, mumpung ada ibu langsung bilang, "Ibu, mohon doanya biar bisa ujian ya.. harusnya jam setengah 8 tadi"

...
(ceritanya sengaja saya potong)
...

Serius, rasanya bener-bener takut. semoga belum ada teman yang keluar kelas, sehingga bisa masuk buat ujian dan ngerjain sedapatnya.

Entah bagaimana nanti.
...


Alhamdulillah!
Lega, lega, beneran lega rasanya.
Tiba-tiba mata terbuka, lalu melihat sekitar, terus bisa mengambil hp dan melihat jam, ternyata masih sekitar pukul 02..
Dan ternyata tadi hanya mimpi. :v
Tapi entah kenapa berasa nyata banget.
Mimpi di malam menjelang ujian terakhir semester ini. Tapi entah kenapa juga, yang di mimpi kok bukan mata kuliah yang buat ujian nanti.

Haha, nggak penting. Ya sudah, lupakan. 
Yang jelas, saat nulis ini adalah ketika hari terakhir ujian.
Yeiy, akhirnya ujian udah selesai.
Eh, selesai??
Nggak ding ya. Malahan berasa baru bener-bener mulai. Mulai (harus) mikir ini-itu. Dan nggak terasa juga, ternyata udah jadi mahasiswi tahun ketiga aja (padahal udah dari setengah tahun yang lalu :/ ).

Haha, ya sudahlah.. 
Selamat "membuka portal"!
(Harap-harap ga usah cemas () ) 

04 Januari 2015

Potongan-Potongan Kata

Potongan-potongan kata itu tertulis di lembaran kertas putih, 
bertintakan warna hitam,
satu kata termuat di satu lembar kertas yang berbentuk sesuai dengan tepian kata yang dimuat.
Ah iya, terpiannya juga ada warna hitamnya.

Hitam-putih. Sangat simpel.
Tapi potongan itu banyak sekali. 
Mau dirangkai?
Ah, ini benar-benar sangat banyak.
Mending ya, kalau potongan-potongan itu terurut.
Yang ada malah teracak dan benar-benar semrawut.
Iya, semrawut.
Tertumpuk-tumpuk dan terbolak-balik. 
Saya saja tidak tahu, darimana saja asal muasal potongan-potongan kata ini. 
Jadilah potongan-potongan kata itu hanya tersimpan tak terkeluarkan.


Entah, tiba-tiba muncul kata-kata itu ketika saya (ingin) mempersiapkan buat ujian dua mata kuliah besok.
Dan saya sadari, keinginan saya untuk 'menulis (?)' itu sering kali datang ketika hari-hari ujian. Enggak tahu kenapa. Seperti saat ini. Tiba-tiba saja. 
back-to-top
Berteman